Perguruan Tinggi Asing di Indonesia

perguruan tinggi asing di indonesiaSeiring dengan disahkannya Undang-Undang Pendidikan Tinggi, cepat atau lambat Perguruan Tinggi Asing (PTA) akan menjamuri Bumi Pertiwi. Menjadi pertanyaan adalah apakah PTA dapat menciptakan pemerkayaan budaya akademik yang lebih baik untuk membangun tanah air? Bagaimana sistem belajar mengajar PTA tersebut sebaiknya, sehingga dapat selaras dengan metode pembelajaran Indonesia yang masih mempertahankan nilai-nilai budaya timur?

Agenda nasional untuk tetap meningkatkan dan memperkaya bidang kerjasama akademik yang lebih baik dengan luar negeri memang telah lama dirintis. Salah satunya adalah dengan negara Australia. Menurut Presiden SBY dalam pidato kunjungannya ke Darwin-Australia, 2 Juli 2012, bahwa kerjasama di bidang pendidikan semakin meningkat, hingga terbentuk BRIDGE Program (The Building Relationship through Intercultural Dialog and Growing Engagement) antara Charles Darwin University dan Universitas Nusa Cendana. Kerjasama tersebut merupakan salah satu bentuk kesepahaman komunitas pendidikan dan menciptakan variasi bidang akademik.

Di sisi lain, meski sistem pendidikan di Indonesia telah berusaha berbenah kualitas, namun ada kecenderungan kuat dari pelajar Indonesia untuk belajar ke negara asing. Hal ini ditunjukkan oleh survey yang dilakukan Universitas Islam Negeri tahun 2011 dan menempatkan Australia sebagai negara favorit kedua bagi pelajar Indonesia.

Fenomena ketertarikan belajar di negara asing memang sangatlah beragam. Namun pada akhirnya tujuan utama belajar ke luar negeri adalah mencari nilai pengetahuan dan pengalaman yang tidak ditawarkan oleh pendidikan dalam negeri. Peluang inilah yang hendak ditangkap oleh PTA untuk masuk ke Indonesia.

Namun perlu disadari bahwa PTA yang masuk ke Indonesia perlu juga melakukan penyesuaian konsep mengajar di Indonesia. Demikian pula, pelajar yang memilih untuk kuliah di PTA di Indonesia juga perlu melakukan adaptasi budaya belajar asing tersebut.

Tiga akar perbedaan pola belajar – mengajar – berpikir

Ada beberapa perbedaan antara sistem belajar di Indonesia dan negara-negara maju. Sistem pendidikan Indonesia melahirkan perbedaan konsep berpikir dan belajar, jika dibandingkan Australia sebagai salah satu contoh pengalaman penulis. Banyak kajian menunjukkan fakta perbandingan berikut.

Pertama, peran dominasi pengajar. Di Indonesia, pengajar dipandang sebagai pemegang otoritas moral dan mendominasi kelas. Pengajar juga dipandang sebagai sumber mata air pengetahuan, dimana pengetahuan dipandang sebagai fakta yang harus diterima dan dinalar oleh pelajar, dan kemudian diulang dalam ujian (Lewis, 1997). Di sisi lain, pengajar Australia berperan sebagai fasilitator yang selalu mendorong siswa untuk menjadi inovatif, berpikir kreatif dan original, serta mandiri.

Kedua, hubungan akademik pengajar dan pelajar. Hubungan antara pengajar dan pelajar Indonesia dibatasi oleh posisi masing-masing kelas sosial dan kepercayaan tradisional tentang pembelajaran (Novera, 2004). Sedangkan, hubungan antara pengajar dan pelajar Australia lebih dibatasi oleh etika profesional. Oleh karena itu, mereka saling mendorong untuk berpikir kritis, berani bertanya, berdebat, menganalisis, dan saling mengevaluasi. Pengajar Australia melatih pelajar mereka untuk menjadi kreatif, bukan sekedar menghafal.

Ketiga, konsep berpikir dan belajar. Kecenderungan pengajar Indonesia mendorong pelajar untuk mendengarkan, taat dan menghafal sesuatu (Buchori, 2001). Pelajar Indonesia belum sepenuhnya didorong untuk berani mengajukan pertanyaan, bahkan enggan untuk mengajukan pertanyaan meskipun mereka ditunjuk untuk melakukannya.

Di Indonesia, pelajar memanifestasikan rasa hormat mereka untuk orang tua dan guru dengan menjadi patuh dan mendengarkan. Adanya kecenderungan mengelompok dan memelihara harmonisasi, membuat pelajar sering lebih memilih untuk memberikan sinyal tidak langsung daripada berdebat langsung dengan guru (Novera, 2004 ). Menyela pengajar di tengah pelajaran dianggap kurang sopan, dan mengkritik para guru dianggap lebih kasar. Pelajar dituntut berperilaku sesuai dan sopan di lingkungan akademik, terutama di kelas.

Kecenderungan-kecenderungan tersebut dapat diartikan sebagai sikap pasif di dalam akademik western. Konsekuensinya, pelajar Indonesia cenderung akan menghadapi kesulitan, terutama dalam kaitannya dengan mendengar aktif, berpikir kritis analitis, dan kurang percaya diri untuk berpartisipasi aktif dan kurang berkomunikasi efektif dalam diskusi dan kerjasama tim.

Mencermati hal tersebut diatas, dapat ditarik benang merah ke depan bahwa dengan adanya perbedaan tersebut, maka Perguruan Tinggi Asing maupun pelajar Indonesia harus mampu menyesuaikan diri dan bersinergi melakukan penselarasan kualitas peran dosen, hubungan akademik dosen dan mahasiswa, serta konsep sistem belajar mengajar.

Oleh karena itu ke depan, peraturan Mendikbud perlu menambahkan pengaturan hal-hal tersebut diatas. Adanya standardisasi kualitas kurikulum dan tenaga pengajar diharapkan mencegah persoalan di masa depan yang justru membuat Perguruan Tinggi Asing (PTA) berpotensi menjadi lembaga pembentur pengajaran. Apalagi, jika pelajar kita yang masuk ke PTA menjadi kesulitan menyerap ilmu yang diajarkan dan menjadi terasing di perguruan tinggi asing.

Ratih Maria Dhewi

Ratih Maria DhewiDosen Institut Pertanian Bogor, dan casual teaching staff di University of Canberra Australia; Kandidat PhD di University of Canberra dengan beasiswa the World Bank – JIPS.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *