Peran Pertanian Dalam Mewujudkan Kemakmuran Bangsa dan Negara Indonesia

membangun sektor pertanian di indonesiaUntuk menuju kemakmuran Bangsa dan Negara Indonesia, khususnya terkait dengan ketahanan dan kedaulatan pangan adalah berdasarkan kegiatan pertanian*. Untuk itu, perlu diperhatikan hal berikut :

A. Kelebihan
1. Areal tanah luas dan cocok dengan berbagai kondisi tropis.
2. Tersedianya tenaga kerja berlimpah.
3. Pasar yang luas, baik dalam maupun luar negeri.
4. Ragam produk, baik pangan maupun non pangan.
5. Dapat diolah lebih lanjut dalam berbagai ragam produk siap konsumsi maupun antara bagi industri lainnya

B. Kekurangan
1. Rendahnya mutu, kuantitas dan kontinuitas komoditas.
2. Rendahnya kemampuan dan pengetahuan petani.
3. Sistem tata niaga kurang kondusif.
4. Penelitian dan pengembangan produk belum berorientasi pada kebutuhan pasar.
5. Kurang tersedianya bibit unggul.
6. Keterbatasan akses pendanaan dan fasilitas penanganan produk.
7. Ketidakberpihakan kebijakan pemerintah terhadap petani.

Dalam implementasinya, kegiatan pertanian memerlukan dukungan berikut :

1. Filosofis dan Legal Operasional
Hal ini pandangan hidup bangsa dan negara (Pancasila), serta mencakup dasar praktik ke-hidupan berbangsa dan bernegara berdasarkan UUD 1945, yang terdiri atas pembukaan (alinea 2) dan pasal-pasal tertentu (27 ayat 2, 28A, 28D ayat 2, 28H ayat 1-2 dan 33 ayat 1-4); implementasi UU No. 32 dan 33/2004 tentang otonomi daerah.

2. Teknis Operasional
Penekanan pada Sub-sektor agribisnis hulu (upstream agribusiness), usaha tani (on farm agri-business), agribisnis hilir (downstream agribusiness) dan penunjang (agrosupporting institutions). Untuk mengkonkritkan hal tersebut diperlukan peta jalan (roadmap) berupa langkah-langkah berikut :
a. Data potensi lintas sektor : sektor, instansi dan potensi.
b. Strategi (A-B-G-C-E)/master plan beserta Kebijakan untuk mendapatkan dukungan lintas sektor : Penyusunan dan penyempurnaan peraturan perundangan; Penguatan ke-lembagaan dan pemberdayaan masyarakat petani (push factor); Pengembangan dan pe-nyempurnaan sistem, mekanisme dan prosedur keuangan dan pemasaran (full factor); Peningkatan kerjasama antar daerah dan stakeholder terkait pengembangan kawasan, pembangunan dan pengembangan sarana dan prasarana pengintegrasian dengan daerah sekitar; Penyediaan infrastruktur.
c. Model keterlibatan sektor-sektor dalam program aksi menuju pembentukan pusat per-tumbuhan ekonomi (PPE) : Program pengembangan wilayah strategis dan cepat tumbuh, Program pengembangan wilayah tertinggal, Pengembangan kelembagaan, Penciptaan iklim investasi kondusif bagi pengembangan usaha dan permodalan.

C. Harapan ke Depan
Untuk menjadikan pertanian sebagai modal dasar bagi kesejahteraan petani dan akhirnya bagi kemakmuran bangsa dan negara, maka perlu dipahami adanya hal berikut yang tidak lepas dari pengaruh dan dampak globalisasi, demokratisasi dan otonomi daerah, yaitu :

1. Tantangan
a. Keberadaan potret atau peta pembangunan pertanian dalam arti luas.
b. Model penanganan antar pelaku usaha di bidang agrobisnis/industri.
c. Pola kemitraan usaha di bidang agrobisnis/industri.
d. Bentuk kelembagaan (terminal agribisnis, pasar induk, asosiasi dan kelompok tani) yang dapat memfasilitasi usaha di bidang agrobisnis/industri.

2. Masalah
a. Penegakan/kepastian hukum.
b. Perpajakan.
c. Ketenagakerjaan.
d. Sarana dan prasarana.
e. Ekonomi biaya tinggi.
f. Kredit perbankan.
g. Pelaksanaan otonomi daerah.

Untuk mencapai optimasi dari hal yang dikemukakan, maka perlu dilakukan upaya melalui Pengelompokan administratif : Status usaha, Legalitas usaha, Sektor usaha dan Bantuan yang diberikan; Penanganan proporsional terhadap faktor-faktor penentu : Peningkatan per-modalan (bankable), Peningkatan SDM (pencatatan keuangan dan keterampilan teknis), Pe-ningkatan kemampuan pemasaran (dalam dan luar negeri) beserta penguasaan jaringan bisnis dan Peningkatan penguasaan teknologi produksi maupun informasi lokal dan global. Kondisi tersebut, pada akhirnya dapat menjawab hal strategik dan praktis berikut :

1. Strategik
a. Tema kegiatan : Ekonomi, teknologi, pewilayahan, pemasaran dan skim dana (ke-beradaan dan bagaimana cara memanfaatkan sumber dana).
b. Program prioritas.
c. Klasterisasi : padat tenaga kerja, berbasis kompetensi dan padat teknologi.

2. Praktis
a. Bisnis apa ?
b. Produk yang akan ditawarkan ?
c. Pasar mana yang akan dilayani ?
d. Bagaimana supaya dapat melayani pasar tersebut dengan baik ?
e. Mengapa memilih lokasi tertentu ?

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa PERAN PERTANIAN DALAM MEWUJUDKAN KEMAKMURAN BANGSA DAN NEGARA INDONESIA, terutama dalam mendukung ketahanan pangan/kedaulatan pangan dan ekonomi kerakyatan dapat diindikasikan dari indikator ke-mandirian berikut :

1. Kemandirian usaha : Stabilitas produksi, Stabilitas pasar, Stabilitas pendapatan dan Kepe-milikan aset.
2. Kemandirian kelompok/organisasi : Kemampuan untuk membiayai operasional organisasi, Berjalannya fungsi struktur organisasi dan Partisipasi anggota.
3. Kemandirian intelektual : Kemampuan menyampaikan sikap dan memegang prinsip, Kemampuan menganalisa dan memecahkan masalah.

Indikator kemandirian yang dimaksud tentunya tidak lepas dari Prinsip dasar keunggulan komparatif dan kompetitif, disamping adanya politik ekonomi pemerintah dalam mendukung Ketahanan/kedaulatan pangan nasional dan ekonomi kerakyatan melalui kebebasan memilih kegiatan oleh pelaku, penciptaan strategi dan pengembangan sistem yang sesuai dalam menuju negara kuat dan mandiri.

*) Pertanian : kegiatan pengolahan dan pemanfaatan sumber daya tumbuhan, hewan, jasad renik dan ekosistem beserta hasilnya yang meliputi produksi, pengelolaan, pemasaran dan distribusi bagi kesejahteraan umat manusia; Sistem pertanian berkelanjutan : pertanian yang mengoptimumkan interaksi antara sumber daya manusia (SDM), sumber daya alam (SDA) dan lingkungan hidup, teknologi dan kelembagaan untuk membentuk suatu sistem yang memenuhi prinsip kesinambungan, keterbaharuan dan keanekaragaman ekologis untuk ke-sejahteraan umat manusia; Pertanian berkebudayaan industri : sistem terpadu industri biologis yang merupakan hasil karya, cipta dan rasa manusia dalam memanfaatkan dan mengelola sumber daya biologi beserta ekosistemnya, berorientasi pada efisiensi, produktivitas, mutu, nilai tambah secara berkelanjutan dan berwawasan lingkungan melalui penerapan ipteks, serta manajemen agribisnis (on farm agribusiness, off farm agribusiness dan business environment) secara terpadu dan dinamis, serta dilakukan oleh pelaku pertanian yang profesional, memiliki etos kerja industri dan karakteristik sosial budaya sesuai Pancasila; Agribisnis : sis-tem pertanian komersial yang mencakup penyiapan sumber daya, produksi, pengadaan sarana produksi dan jasa, proses produksi dan agroindustri yang ditunjang sistem pelayanan yang mendukung; Agroindustri : sub-sistem dari agribisnis yang mencakup kegiatan pasca panen dan pengolahan, perlakuan, sortir, grading, penge-masan, pelabelan dan penyimpanan dari kegiatan transformasi produk dan pemasaran.

Prof. Dr. Ir. H. Musa Hubeis, MS, Dipl.Ing, DEA

Musa HubeisGuru Besar Manajemen Industri IPB. Topik penelitian yang dikembangkan beliau adalah pembinaan dan pengembangan industri dalam skala kecil-besar, pertanian dalam arti luas, dan lain-lain (kewirausahaan, kemitraan usaha, pariwisata dan otonomi daerah). Beliau telah menulis ratusan karya ilmiah yang telah dipublikasikan dan menjadi narasumber di berbagai media massa. Salah satu karya ilmiah yang dianggap terbaik adalah Studi Pembinaan dan Pengembangan Industri Kecil Pangan dengan Pola Inkubasi Bisnis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *