Pendidikan Yang Mendidik

pendidikan yang mendidikPemberitaan di media massa mengenai Rancangan Undang Undang Perguruan Tinggi (RUU PT) dan kontroversi perluasan otonomi perguruan tinggi, mengusik nurani penulis sebagai pengajar. Apakah perguruan tinggi sudah menyadari betul arti otonomi yang mampu meningkatkan daya saing bangsa? Jika kontrol mengikat pada kepatuhan, maka otonomi seyogyanya mengarahkan keterlibatan. Keterlibatan yang sinergi dalam pengaturan sistem pendidikan, antara negara, pengelola akademik, tenaga pengajar dan industri yang menyerap lulusan.

Pasalnya metode pembelajaran saat ini, dengan otonomi Perguruan Tinggi (PT) yang ada, belumlah optimal; terkesan monoton dan bersifat satu arah dari pengajar. Kurikulum pembelajaran berbasis kompetensi yang diterapkan belum membangun kapasitas hardskill dan softskill berimbang bagi mahasiswa Indonesia. PT cenderung membangun hardskill mahasiswa yang mengarah pada persyaratan kemampuan teknis dan penghapalan materi. Padahal softskill mengarahkan pada keterampilan kepribadian dan sosial yang melengkapi hardskill.

Motivasi dan target pembelajaran di PT harus diakui masih terjebak dalam tujuan jangka pendek bersifat pragmatis dan menyumbat pengembangan softskill mahasiswa terutama daya analisis, daya kritis, kemampuan komunikasi dan aktualisasi diri dengan lingkungan sekitar. Hal ini berpotensi mengaburkan pencapaian kompetensi lulusan yang holistik dan komprehensif dalam jangka panjang. Dalam konteks ini, mahasiswa tidak dapat disalahkan sepenuhnya, mengingat sistem pembelajaran selama ini lebih mengejar pada pemenuhan Sistem Kredit Semester (SKS).

Pendidikan tinggi belum memberikan sistem nilai kerja cerdas, etika-moral, dan softskill kepada peserta didiknya secara maksimum. Softskill hanya diperoleh sendiri oleh mahasiswa yang sering aktif dalam kegiatan intra maupun ekstra organisasi pendidikan tinggi.

Mengingat perkembangan dunia manajemen dan bisnis begitu cepat berubah, maka proses belajar untuk meningkatkan kepekaan para mahasiswa dan kemampuan mempelajari fenomena sosial akan menjadi sangat strategis. Muatan softskill yang sangat dibutuhkan meliputi kerjasama dalam tim, komunikasi, kepemimpinan dalam mengelola orang, komitmen, kepercayaan, mandiri, dan inovatif. Juga, pentingnya ditanamkan nilai-nilai kejujuran.

Kedudukan softskill dalam kurikulum pendidikan telah menjadi penting ketika fenomena yang sering terjadi beberapa tahun terakhir ini, lulusan pendidikan tinggi cenderung tidak tahan bekerja dengan tingkat kompetisi tinggi atau di bawah tekanan. Hal ini sebagai salah satu penyebab lulusan pendidikan tinggi, sering menganggur ataupun berpindah kerja dalam waktu relatif singkat.

Masa depan pendidikan yang mendidik

Berdasarkan hal di atas, maka para pengelola akademik perlu mensosialisasikan pemahaman tentang perlunya perubahan pola pikir yang selama ini dimiliki para dosen dan lulusan. Pola pikir bahwa daya saing para lulusan di dunia kerja sangat bergantung pada tingginya prestasi akademik perlu ditinggalkan. Dengan kata lain, para lulusan yang ingin berdaya saing tinggi dianjurkan untuk terus memutakhirkan pengetahuan dan pengalaman praktis serta penguasaan sofskill.

Perlu terus diuji apakah ada korelasi antara tingginya IPK dan keberhasilan dalam proses pekerjaan. Menurut Belbin (1981), kelompok karyawan dengan kecerdasan di atas rata-rata tidak memiliki kemampuan untuk bekerjasama di kelompoknya. Hal ini juga diperkuat bahwa lulusan MBA (mewakili yang berintelegensia tinggi) terlalu analitis namun kurang mampu berhubungan dengan orang lain dan berpikiran sempit (Ed Griffin,1981).

Strategi Pembelajaran

Pergeseran proses pembelajaran secara gradual dari teaching centered ke student centered sudah lama didengungkan, namun menemui banyak tantangan. Dengan proses pembelajaran berbasis pada mahasiswa, maka hasil pembelajaran akan dapat mengarah pada proses belajar cara mengelola pengetahuan. Sehingga mahasiswa tidak hanya menguasai teori dan konsep ilmu-ilmu yang diajarkan, tetapi juga akan memiliki kemampuan dan kepekaan mengembangkan pendekatan mengelola masalah dan lingkungan sosial.

Menurut Division of Educational Development & Research, Teacher & Educational Development, University of Mexico (2002), metode pembelajaran efektif adalah menggunakan problem nyata. Diskusi interaktif dan partisipasi aktif mengenai masalah aktual akan dapat mengasah cara berpikir secara logis dan analitis; sementara dosen hanya berperan sebagai fasilitator. Hal ini merupakan bagian utama dalam menghasilkan lulusan yang memiliki daya analisis tinggi, kepekaan sosial, nilai keadilan, dan pandangan obyektif tentang suatu hal.

Berkaca bukan pada kaca yang retak, mengamati sistem pendidikan di Australia, lebih mengarah kepada pemotivasian mahasiswa, antara lain, memberi perhatian, semangat dan kepercayaan kepada mahasiswa, dan memberi materi relevan dengan kemampuan mahasiswa dan situasi kontekstual. Pengajar berperan sebagai fasilitator yang selalu mendorong siswa untuk menjadi inovatif, berpikir kreatif dan original, serta mandiri.

Begitu pula kombinasi kelas-kelas tutorial di Australia yang sifatnya interaktif partisipatif, menunjukkan jalan, cara dan metode yang dapat membantu mahasiswa menelusuri dan menemukan penyelesaian masalah yang berkaitan dengan materi pembelajaran, secara bersama-sama.

Dengan demikian, menurut saya, otonomi Perguruan Tinggi di Indonesia dan konsistensinya mengawal Tri Dharma perlu didorong untuk semakin meningkatkan kepada inovasi metode pembelajaran yang mendidik bangsa.

Sehingga, sistem pendidikan Indonesia tidak hanya mengajar tetapi memberi bekal untuk mengelola hidup dan masa depan lulusan Perguruan Tinggi, yang pada akhirnya mampu membentuk karakter bangsa, bahkan mampu menghasilkan noble ideas, sehingga meningkatkan daya saing bangsa.

Ratih Maria Dhewi

Ratih Maria DhewiDosen Institut Pertanian Bogor, dan casual teaching staff di University of Canberra Australia; Kandidat PhD di University of Canberra dengan beasiswa the World Bank – JIPS.

2 Responses to Pendidikan Yang Mendidik

  1. Ronald Perini Simatupang

    Pendidikan adalah untuk memanusiakan manusia. Berbicara pendidikan suatu negara berarti berbicara mengenai tujuan pendidikan negara tersebut. Tujuan pendidikan tersebut dituangkan oleh negara melalui yang namanya regulasi berupa peraturan perundang-undangan Yang pernah mengecap pendidikan di Perguruan tinggi atau menjadi mahasiswa di suatu kampus tentunya tahu akan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Adapun Tri Dharma Perguruan Tinggi meliputi Pendidikan, Penelitian dan Pengembangan serta Pengabdian pada Masyarakat. Namun, seiring berjalannya waktu dan ganasnya persaingan dalam dunia kerja dan pendidikan pihak kampus seakan-akan menjadi batu penghalang bagi mahasiswanya untuk melakukan ke-3 hal tersebut melalui kebijakan-kebijakan yang mereka keluarkan dan ironisnya lagi mahasiswa sangat mendukung kebijakan-kebijakan itu tanpa ada suatu perlawanan untuk mengubahnya kembali pada jalur yang sebenarnya.

    Permasalahan pendidikan di Indonesia selain mahalnya biaya untuk mengakses pendidikan bagi mayoritas masyarakat Indonesia yang berada di garis kemiskinan juga tidak mampu menjawab permasalahan sosial masyarakat dalam rangka meningkatkan kemampuan Sumber Daya Manusia(SDM).

    Dalam otonomi perguruan tinggi yang menjadi permasallahan utama adalah pelepasan tanggung jawab negara dalam mensubsidi pendidikan tinggi sehingga PT mencari usaha dalam pengelolaan institusinya dengan dapat menentukan kebijakan biaya tanpa adanya larangan.

    Dengan demikian akar permasalahn pendidikan yang mendidik adalah negara yang tidak memiliki tujuan pendidikan dalam membangun karakter bangsa dan juga pendanaan dalam mengkualitaskan rakyatnya.

    • Terimakasih Pak Ronald Perini Simatupang.
      Saya sepaham dengan Bapak.
      Penyelenggaraan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang dilandaskan pada semangat Otonomi Perguruan Tinggi – perlu mengarahkan keterlibatan yang sinergi dalam pengaturan sistem pendidikan, antara negara, pengelola akademik, tenaga pengajar, dan industri yang menyerap lulusan. Utamanya, sinergitas yang berkesinambungan antara otonomi keilmuan bagi dosen (yg semakin meningkatkan kepada inovasi metode pembelajaran yang mendidik bangsa), maupun otonomi pengelolaan keuangan bagi pengelola perguruan tinggi, perlu dukungan dan intervensi Negara dalam pengaturan Pendidikan Indonesia yang terencana di UU PT.
      Salam hangat. Ratih Maria Dhewi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *