Namanya Juga Komedi

Namanya Juga KomediMungkin banyak orang yang tidak asing mendengar istilah pada judul diatas. Di dunia ini siapa yang tidak kenal komedi? Komedi merupakan hal yang sangat universal. Bahkan dikehidupan sehari-hari biasanya kita melakukan lawakan dengan teman atau orang lain di sekitar lingkungan kita. Menjadi pertanyaan disini apakah dengan maraknya media showbiz di Indonesia ini, komedi bisa dijadikan alat untuk mencerdaskan bangsa?

Menurut Jon Honkenson dalam buku The Idea of Comedy, komedi adalah imitasi dari suatu tindakan yang menggelikan dan tidak wajar yang dimaksudkan untuk menstimulasi orang untuk tertawa atau terhibur.

Banyak orang hanya ingin menikmati komedi tanpa mau memahaminya karena sebagian orang beranggapan bahwa menikmati dan memahami adalah dua hal yang berbeda. Dengan kata lain, memahami dapat diasumsikan sebagai proses yang cukup rumit karena harus mendalami esensi dari suatu komedi. Berbeda dengan menikmati yang hanya memerlukan sebuah spontanitas belaka lalu tertawa. Sebagai contoh, ketika kita sedang menikmati sebuah lagu tentunya kita harus memahami makna lagu tersebut dan kemudian menikmatinya. Dalam dunia komedi ketika kita hanya melihat tingkah laku atau ekspresi komedian yang menggelikan maka kita bisa secara spontan langsung tertawa tanpa perlu mengerti atau memahami esensinya lebih jauh.

Humor seperti halnya seni yang lain, penerimaannya dalam masyarakat tergantung pada nilai-nilai yang berlaku dalam struktur masyarakat tersebut seperti tingkat pendidikan, strata sosial ataupun karakter seseorang, dan setiap orang tentunya memiliki persepsi yang berbeda-beda. Sebagai contoh belum tentu lawakan seperti Srimulat atau komedi OVJ dapat dinikmati oleh orang asing meski mereka mengerti dan memahami struktur kata bahasa Indonesia. Hal ini dikarenakan perbedaan nilai budaya dan tatanan nilai yang dianut.

Penulis Jerman, Georg Lichtenberg, pada abad ke-18 mengatakan bahwa semakin banyak yang anda ketahui tentang humor, semakin anda memperoleh kebaikan. Itulah kenapa orang yang mampu melawak banyak dianggap cerdas karena mampu memutarbalikkan logika dan melogikakan hal yang terbalik. Mantan Presiden almarhum Gus Dur adalah salah satu orang yang dikenal dengan humor cerdasnya, dimana setiap humor yang dilemparkannya harus ditelaah menggunakan logika untuk mendapatkan makna bijaknya.

Mencermati sejarah perkembangan dunia komedi di Indonesia, sejarah seni lawak di Indonesia ini memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan dengan sejarah komedi dari bangsa lain. Dunia lawak di Indonesia bisa dikatakan sedikit berbeda karena setidaknya dunia lawak Indonesia diambil dari nilai-nilai dan tatanan sosial yang berlaku di negara kita yaitu dengan tetap memperhatikan asas kepatutan dan kesopanan.

Komedi Indonesia juga memiliki berbagai macam istilah unik untuk mendeskripsikan komedi yang definisinya tidak dimiliki oleh bangsa lain. Istilah-istilah seperti dagelan, lawak, dan banyolan merupakan metaforsa istilah komedi dalam bentuk lain. Dagelan lebih dikonotasikan dengan istilah komedi tradisional, sedangkan banyolan lebih mengacu kepada komedi kaum urban.

Sejarah awal pertunjukkan komedi Indonesia sebenarnya dimulai sejak ratusan tahun silam bersama dengan kelahiran seni seperti wayang orang, ludruk ataupun ketoprak. Namun disini saya membagi menjadi tiga periode perkembangan panggung komedi Indonesia yaitu sejarah komedi Indonesia klasik era 1960-1970-an, sejarah komedi Indonesia pertengahan era 1980-1990 dan komedi era millennium sejak tahun 2000.

Pada era klasik, ada banyak kelompok-kelompok komedi bermunculan. Pelopor komedian berbakat seperti Edi Sud, Bing Slamet dan Iskak, Srimulat termasuk juga pelawak Asmuni dan kelompok Kwartet Jaya yang memunculkan tokoh Ateng. Gaya lawakan pada era ini lebih pada penguatan karakter dan permainan kata-kata didukung oleh ekspresi jenaka. Contoh kalimat ‘hil…hil yang mustahal’ untuk penyebutan ‘kata mustahil’ cukup populer pada masa itu. Media pementasan yang digunakan selain melalui panggung juga menggunakan media televisi nasional yang saat itu hanya satu yaitu TVRI.

Sedangkan perkembangan pada masa sejarah komedi pertengahan Indonesia memunculkan kelompok-kelompok seperti Warkop DKI yang merupakan singkatan dari Warung Kopi DKI terdiri atas Dono, Kasino dan Indro. Kelompok lain selain Warkop DKI pada era ini adalah group parodi Pancaran Sinar Petromak (PSP) yang melambungkan nama Monos.

Gaya lawakan pada masa ini karena latar belakang mereka kebanyakan dari kaum terpelajar Indonesia dan lulusan perguruan tinggi, maka bahan lawakan mereka cenderung humor intelektual dan politik satir. Media yang digunakan sebelum menggunakan media layar lebar, pada masa ini banyak melalui radio.

Di era pertengahan ini pula tepatnya awal tahun 90-an, dengan berdirinya televisi swasta, sebagian komedian yang merupakan jebolan dari radio mengembangkan sayapnya juga ke jalur televisi. Nama-nama seperti Akri, Patro, Eko ataupun Grup bagito yang digawangi Miing, Unang dan Didin ataupun Komeng merupakan komedian popular pada masa ini.

Sejak tahun 2000, komedi Indonesia mulai menjamur dengan diadakannya ajang pencarian bakat pelawak indonesia. Banyak artis yang pindah lahan ke komedi dan sebaliknya banyak pula komedian memilih karir menjadi politisi.

Pada era ini tontonan humor lebih cenderung menyajikan humor verbal. Menarik untuk dicermati disini, humor semacam ini dapat membuat kebanyakan orang Indonesia tertawa dan menikmatinya. Media yang digunakan juga semakin luas bukan hanya media televisi, namun melalui jalur internet.

Menarik untuk disimak juga, sejak sekitar awal tahun 2011, muncul bentuk komedi yang tidak terlalu baru sebenarnya yang mewarnai dunia perkomedian di Indonesia yaitu stand up komedi. Kevin Mc caron dan Maggi savin-baden dari London, dalam penelitiannya berjudul compering and comparing: stand up comedy and pedagogy menyatakan strategi teknis dari stand up comedy dapat membantu para pendidik untuk menstimulasi pemikiran kritis dari para pelajar, khususnya pada pendidikan tinggi. Implementasi tersebut membutuhkan para pendidik yang spontan dan fleksibel dalam melakukan pendekatan dalam metode pengajarannya. Hal tersebut juga dapat membangun situasi belajar yang santai dan hangat, sehingga memudahkan para pelajar menyerap ilmu dan pemahaman yang diajarkan para pendidik.

Stand up comedy yang menggunakan teknik tertentu dan menghidupkan humor-humor cerdas diharapkan mampu mewarnai tayangan-tayangan komedi yang ada di Indonesia, dan juga ikut membangun masyarakat yang kritis dan cerdas demi kemajuan bangsa.

Rahmad Ibrahim

Rahmad IbrahimPenulis adalah mahasiswa Master of Laws di University of Canberra, dan juga sebagai Ketua PPI Australia Cabang Canberra.

3 Responses to Namanya Juga Komedi

  1. UCISS member

    kapan pentasnya ini uda baim? ditunggu tq.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *