Mengajar Sebagai Seni

mengajar sebagai seniPerkenankan saya membagikan pemahaman saya tentang mengajar sebagai seni. Dengan demikian tulisan ini ada dalam konteks pendidikan. Pertanyaan sentralnya adalah: Bagaimana kita mengajar sebagai seni? Mengajar sebagai seni adalah salah satu alternatif di dunia pendidikan dalam kaitannya dengan proses pembelajaran di sekolah. Mengajar sebagai seni adalah sesuatu yang menarik, terutama dalam upaya membentuk pengetahuan: dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang sedikit tahu menjadi makin tahu, dan dari sudah tahu menuju lebih mengetahui lagi. Tujuannya adalah untuk memperluas wawasan pengetahuan seraya membandingkan antara  isi pengetahuan yang telah dimiliki dan isi pengetahuan yang diterima. Hal yang menarik perhatian saya adalah bagaimana mengajar sebagai seni harus dimiliki oleh sang komunikator yang tidak lain dari pengajar atau guru sendiri?

Sang komunikator hendaknya punya kemampuan untuk mentransfer pengetahuan dengan cara kreatif agar dipahami oleh setiap anak didik yang mendengarkannya dan mau terlibat aktif di dalam upaya sang komunikator tersebut. Guru memang disebut komunikator handal sejauh dia mampu mengkomunikasikan apa yang dimiliki kepada sang anak didik. Pesan atau isi pengetahuan haruslah dikemas menjadi menarik agar anak didik yang menerimanya sungguh tertarik dan segera “membeli”nya. Tentunya ini membutuhkan keahlian, kecakapan, pengalaman, dan keterampilan dari sang pengajar.

Benar bahwa mengajar sebagai seni adalah hal yang fundamental, tetapi saat kita menganalogikannya dengan seorang seniman yang mengukir atau melukis sesuatu lalu membuat saya bertanya: Dimanakah kreativitas sang anak didik? Apakah seorang guru mengajar untuk kepuasan dirinya semata atau untuk keterarahannya pada pendidikan dan perkembangan kepribadian sang anak? Perlu diingat bahwa sang seniman mengukir sesuatu yang pasif. Tanah liat hanya pasif dan hanya sang senimanlah yang mengukirnya. Kertas putih pada mulanya tidak bergambar, tetapi kemudian menjadi sebuah lukisan yang menarik setelah mendapat sentuhan tangan seniman. Tetapi kertas bergambar yang tadinya putih tetap pasif. Di sinilah letak korektif analogisnya. Yang saya mau katakan adalah mengajar sebagai seni harus ada kaitannya dengan mengajar sebagai upaya mengeluarkan apa yang dimiliki oleh si dia yang diajar.

Dalam kaitan dengan itu kita kembali ke arti pendidikan pada aslinya. Berasal dari kata Latin Educare, E berarti keluar,  Ducare berarti menarik. Jadi pendidikan berarti menarik keluar. Sebagaimana kita ketahui tentang konsep pendidikan menurut Filsuf Yunani Kuno, Socrates. Ia mengibaratkan pendidikan (termasuk di dalamnya guru dan anak didik) seperti seorang bidan yang membantu sang Ibu untuk melahirkan bayi. Bidan hanya membantu, yang mengeluarkan sang bayi adalah sang Ibu. Bidan adalah sang guru itu sendiri, sang Ibu adalah orang yang dididik, sedangkan sang bayi yang lahir itulah pengetahuan. Jadi pada diri anak didik sebenarnya sudah ada pengetahuan, yang dalam bahasa filsafat dimaksudkan bahwa sang anak bukanlah masih kosong dengan pengetahuan. Pada sang anak sudah ada pengetahuan, yang perlu dibantu untuk dikeluarkan, diarahkan, dan dikembangkan.

Dari Socrates, kita menuju ke filsuf Jean Piaget (1896-1980) yang berbicara tentang konstruktivisme. Menurutnya, pendidikan adalah proses konstruksi kesadaran akan hal-hal baru dengan asimilasi, akomodasi, dan equilibration. Maksudnya, pengetahuan itu dikonstruksi melalui indra atau realitas. Kemudian rasio atau akal budi  memproses menuju pengetahuan konstruktif, artinya menuju proses berpikir operatif dan kreatif. Jadi sang anak didik bukanlah figuratif dan sekadar gambaran semata (bandingkan tanah liat atau kertas putih yang harus butuh sentuhan sang seniman). Implikasinya pada mengajar, maka mengajar berarti menciptakan kondisi kondusif, bentuk partisipatif guru dalam proses membentuk pengetahuan siswa, proses memfasilitasi proses belajar siswa, artikulasikan pengetahuan, merangsang aktivitas berpikir siswa, sehingga membantu siswa berpikir konstruktif. Strateginya adalah dengan memberi orientasi (arah dan motivasi), elistasi (artikulasi apa yang siswa mengerti), restrukturisasi ide (apa yang dipelajari dibentuk pengertian kembali), aplikabilitas (terapkan ide dalam banyak situasi), dan review (meringkas gagasan yang berkembang dan berubah).

Jadi peranan guru adalah sebagai mediator dan fasilitator. Tugasnya adalah menyediakan pengalaman belajar, menyediakan kegiatan yang mengembangkan rasa ingin tahu siswa dan membantu siswa berpikir. Tugas lainnya adalah mencari atau menemukan pengalaman baru, memonitor atau mengevaluasi berhasil tidaknya proses berpikir. Guru juga membantu cara artikulasi atau ekspresi pikiran dari siswa, serta tunjuk dan pertanyakan apakah pengetahuan siswa cukup pecahkan persoalan yang dihadapi. Catatan untuk sang guru adalah: pandangannya bukanlah kebenaran tunggal, jadi perlu terbuka terhadap perkembangan baru. Guru juga tidak mengajukan solusi tunggal tetapi haruslah menawarkan jawaban yang membantu siswa menemukan jawaban alternatif.

Karena itu diperlukan juga peranan siswa, terutama melalui pembentukan hipotesis, problem solving, dialog, refleksi, dan ekspresi ide. Dengan kata lain, sang murid juga harus membangun sendiri pengetahuan, membentuk pengertian, memberi makna kepada pengalamannya, bertanggung jawab atas hasil belajar, terlibat aktif dalam proses organik (aktif, berkembang, adakan penemuan baru melalui penelitian) dan bukan dalam proses mekanik (statis: hanya kumpulkan definisi lalu hafal saja). Bandingkan kembali Seniman dan Hasil Karya seninya.

Di akhir tulisan ini, ada kata-kata Kong Hu Tzu yang sangat mengesankan saya. Semoga juga berguna untuk anda: “di empat penjuru semua adalah saudara”. Saya dari penjuru yang satu senang bisa berjumpa dengan anda para pembaca dari lain penjuru. Kita saling mengisi sebagai saudara-saudari demi kemajuan pendidikan Indonesia.

Alfin Buarlele MSC

Menamatkan pendidikan pada Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng-Manado dan pembinaan pada Skolastikat MSC Pineleng-Manado, Indonesia pada tahun 2010.

2 Responses to Mengajar Sebagai Seni

  1. Cukup banyak hal menarik pada tulisan ini, terutama pembandingan seniman dan guru. Konsisten dengan pendapat guru bukan kebenaran tunggal, maka membiasakan sebuah forum dengan diskusi dan wacana yang saling bertentangan, berdialektika semestinya menjadi suatu keharusan. Tanpa adanya dialektika, maka cepat atau lambat lelayu akademik terjadi. Contoh kasus dapat dibaca di http://retakankata.com/2012/05/15/sesat-pikir-dan-lelayu-akademik/.
    Ada hal yang kurang sependapat dengan pandangan terhadap seniman yang sebaiknya diluruskan, setidaknya cara egaliter memandang sebuah profesi. Jika seniman ditanya, maka yang dilakukan seniman adalah menghidupkan benda mati. Sesuatu yang mati dibentuk, diolah sedemikian rupa sehingga hidup dan bergerak hingga ke bawah sadar manusia. Jika guru ingin mengajar sebagai seni, maka ia harus mampu menghidupkan benda-benda mati sehingga menggerakkan murid untuk maju. Sebagai akhir catatan komentar, berikut saya tautkan pandangan seniman terhadap guru: http://retakankata.com/2012/04/26/menggurui/

  2. hari murtiadi

    salam ikhlas….saudaraku, saya dari penjuru Central of Java – spirit asia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>