Membangun Budaya Akademik yang Berkarakter

membangun budaya akademik yang berkarakterTantangan

Walau perjuangan kemerdekaan fisik sudah lama usai, Perguruan Tinggi (PT) sepatutnya menyatakan rasa syukurnya dengan mengisi kemerdekaan dengan ikut aktif sebagai pelopor dalam menghasilkan gagasan-gagasan memerangi kebodohan, kemiskinan, kemelaratan dan keterbelakangan. Sebagai refleksi dari pengisian kemerdekaan maka lembaga akademik PT sepantasnya mampu mengembangkan spirit “kemerdekaan” dalam bentuk menerapkan “Hak Milik” yang paling berharga yakni kebebasan, otonomi, dan budaya akademik.  Mengembangkan budaya akademik berupa berpikir kritis, berinisiasi, dan dalam berkreasi dan  berinovasi, dan tidak terperangkap  “penjara” sindrom kebijakan dan birokrasi akademik yang sangat ketat.

Derajat budaya akademik di PT diduga bukan saja berhubungan dengan birokrasi pendidikan tinggi tetapi juga akibat keadaan internal berupa interaksi sosiologis yang cenderung belum semua individu siap berbeda pendapat, bersaing dan berambisi untuk meraih kemajuan perguruan tingginya itu sendiri. Kalau menyimpang dari struktur birokrasi mungkin khawatir disebut sebagai sikap arogan dan ambisius. Namun demikian, kalau dibiarkan maka perguruan tinggi akan kehilangan karakter jati dirinya sebagai lembaga ilmiah atau akademik yakni hilangnya intelektual yang bersikap kritis.

Tantangan berikutnya adalah tradisi akademik berupa kebebasan untuk menyatakan pendapat apa adanya namun bertanggung jawab, juga masih belum berkembang. Seharusnya  tidak perlu ada dinding tebal yang menghalangi setiap dosen menyatakan pemikiran-pemikirannya sekalipun mungkin bernada “pedas” asalkan didukung dengan kaidah ilmiah yakni obyektif dan kebenaran.

Produk-produk kebijakan PT termasuk visinya juga perlu ditelaah mendalam kembali baik dilihat dari substansial maupun teknis operasional apakah sudah ada kandungan unsur budaya akademik atau belum. Jangan sampai unsur-unsur non akademik dan sangat teknis sifatnya mendominasi dalam membuat indikator keberhasilan perguruan tinggi. Misalnya penting dijadikan ukuran keberhasilan suatu PT adalah budaya meneliti dan menulis karya-karya ilmiah yang menjadi rujukan masyarakat akademik nusantara bahkan mancanegara.

Satu hal lagi yang belum terjadi secara merata yakni kemampuan menciptakan suasana yang semakin nyaman dalam mengembangkan budaya akademik. Maknanya jangan sampai PT larut terlalu kerap mengurus masalah-masalah teknis pembelajaran semata namun lupa mengembangkan potensi sumberdaya dosen dengan pemikiran-pemikiran cerdasnya. Kalau kondisi “malas” untuk mengembangkan budaya akademiknya seperti mengembangkan suatu teori, meneliti, menulis buku ilmiah, dan jurnal ilmiah yang dikaitkan dengan latar belakang masalah kita sendiri, maka sama saja kita menjadi “turunan dekat warga barat” dalam berbudaya akademik. Tinggal impor dan gunakan saja tanpa tinjauan kritis berbasis karakter unik bangsa kita. Kreatifitas kita bisa semakin melemah karena cukup dengan menggunakan pola pikir dan bertindak bagaikan perilaku konsumen. Jangan sampai generasi pelanjut didikan PT banyak dijejali dengan teori-teori dari luar tanpa diperkuat dengan karakter, kekayaan dan masalah empiris bangsa.

Sementara itu harus diakui adanya kenyataan bahwa semangat dan kemampuan mahasiswa dalam hal membaca dan menulis cenderung masih lemah. Kondisi ini bukan karena faktor interinsik mahasiswa yang bersangkutan saja namun juga oleh pola pembelajaran yang ada. Mahasiswa jarang diajak aktif untuk berpikir kritis berbasis teori dan empiris. Selain itu diskusi-diskusi kelompok hampir jarang dilakukan karena terbatasnya dosen, waktu dan ruangan. Fenomena ini jangan dipandang sebagai sesuatu yang sederhana namun harus dicari formula solusinya.

Bagaimana Sebaiknya ?

Budaya akademik yang berkarakter baru bisa berkembang kalau PT mampu memfasilitasi dalam bentuk program dan kegiatan akademik yang bersinambung. Setiap insan dosen terbuka peluangnya untuk mengembangkan potensi dirinya tanpa ketat “dikungkung” aturan birokrasi dan bahkan oleh ketidakadilan dan kekurangan-perhatian dari “seniornya”.  Budaya akademik harus memiliki karakter bahwa mencari dan mengembangkan ilmu pengetahuan itu adalah manifestasi dari ibadah seseorang. Disitu kental ciri budaya akademik yang berkarakter ibadah bahwa “ilmu amaliah, amal ilmiah”.

Di sisi lain maka dibutuhkan keteladanan sebagai karakter sejati para senior, utamanya para guru besar, dalam berbudaya akademik. Kegiatan mengajar, membimbing dan meneliti serta menulis jurnal dan buku ajar seharusnya menjadi perhatian yang tinggi ketimbang mencari jabatan-jabatan teknis. Para guru besar seharusnya mampu menjadi panutan dalam bidang kehidupan spiritual, memiliki wawasan keilmuan yang luas, berbudi pekerti luhur, dan profesional di bidangnya. Dengan demikian penerapan budaya akademik seperti ini secara otomatis dan alami akan diikuti oleh para “yunior” dan mahasiswanya. Jangan sampai ada kesan seorang dosen baru rajin menulis karya ilmiah hanyalah ketika sibuk untuk meraih angka kredit jabatan akademik saja.

Bentuk budaya akademik yang sangat substansi adalah datang dari setiap insan akademik utamanya dosen. Budaya menelaah bahan ajar, diskusi keilmuan, tinjauan teori-teori yang ada, penelitian, menulis buku dan jurnal ilmiah seharusnya menjadi aktifitas keseharian. Ada baiknya dikembangkan perilaku atau ekspresi ilmiah, seperti penelitian, yang diawali dari perenungan, perencanaan, penelitian, rekonstruksi/kontemplasi, penulisan, dan publikasi serta diseminasi karya ilmiah dalam bentuk seminar, penulisan dan publikasi ilmiah nasional dan internasional.

Dalam konteks kehidupan modern maka PT hendaknya mengembangkan jejaring lintas budaya akademik antarbangsa. Interaksi antarbudaya menjadi semakin penting dalam kerangka akulturisasi budaya tanpa menghilangkan budaya akademik berkarakter yang ada. Intinya adalah bagaimana dengan komunikasi budaya tersebut PT memeroleh manfaat untuk mengambil sisi nilai baiknya suatu budaya akademik dari luar.

Sjafri Mangkuprawira

Sjafri MangkuprawiraGuru Besar di Institut Pertanian Bogor dan Sekolah Tinggi Manajemen PPM Jakarta, yang mengasuh berbagai mata kuliah di tingkat S1 sampai S3 untuk mata kuliah, diantaranya: MSDM Strategik, Ekonomi Sumberdaya Manusia, Teori Organisasi Lanjutan, Perencanaan SDM, Manajemen Kinerja, Manajemen Pelatihan, dan Manajemen Program Komunikasi.

6 Responses to Membangun Budaya Akademik yang Berkarakter

  1. Setuju sekali pak..harus di budayakan semangat tersebut, soalnya saat ini kadang banyak juga dosen/pengajar yg sudah merasa nyaman dan cukup dengan zona nya, manusiawi sih, tetapi sayang bila tdk diasah kemampuannya…jd sy fikir adalah penting untuk membangkitkan semngat terus berkarya dan menciptakan ide2…nice work Prof..

  2. thats right pak.. senang membacanya. Dan saya berharap dapat diimplementasikan di Kampus kami di Papua. terimakasih sudah share dengan kami…tetap semangat dan jaga kesehatan ya pak.

    salam.

  3. dosen dan mahasiswa masih terperangkap dalam budaya gugur kewajiban saja belum mampu menerapkan budaya ilmiah dalam kehidupan sehari-hari. izin mengutip tulisan bapak

  4. Salam pa ..
    Saya adalah dosen perguruan tinggi swasta banjarmasin, saya akan mengkritisi paragraf ini pa: keteladanan sebagai karakter sejati para senior, utamanya para guru besar, dalam berbudaya akademik. Kegiatan mengajar, membimbing dan meneliti serta menulis jurnal dan buku ajar seharusnya menjadi perhatian yang tinggi ketimbang mencari jabatan-jabatan teknis. Para guru besar seharusnya mampu menjadi panutan dalam bidang kehidupan spiritual, memiliki wawasan keilmuan yang luas, berbudi pekerti luhur, dan profesional di bidangnya. Dengan demikian penerapan budaya akademik seperti ini secara otomatis dan alami akan diikuti oleh para “yunior” dan mahasiswanya. Jangan sampai ada kesan seorang dosen baru rajin menulis karya ilmiah hanyalah ketika sibuk untuk meraih angka kredit jabatan akademik saja.
    Bagaimana karakter sejati itu bisa muncul jika karakter individu yang terbangun dari latar belakang keluarga yang broken home, anak haram dan yang abnormal lainnya? Bagaimana akan muncul karakter itu jika dosen hanya mengajarkan matakuliahnya saja kan kita tau kalau matakuliah metodelogi penelitian diberikan pada saat semester akhir , tidak setiap dosen memberikan mata kuliah tersebut, ada solusinya pa?
    Para guru besar cenderung bersosialisasi dengan mahasiswa yang diajarnya saja di dalam kelas keluasan guru besar bersosialisasi dengan mahasiswanya atau dosen lain cenderung tidak ada karena dikampus saya merasakan hal itu …interaksi hanya struktural yang berarti harus memiliki jabatan dulu kalau mau berinteraksi dengan mereka karena urusan dan lain sebagainya, menjembataninya seperti apa?
    Apakah bapak setuju jika ada dosen yang mengeluh bahwa inputnya sudah jelek ya outputnya jelek juga sehingga terkesan bahwa dosen kurang menghayati seninya sebagai seorang pengajar , padahal kalau menurut saya bertentangan dengan fungsi pendidikan secara umum yang saya copas dari tulisan mbak maria dari tidak tau menjadi tau , miskin menjadi kaya, dsbnya
    terima kasih untuk pencerahannya pa salam hangat dari saya….Alyaa

  5. memeang benar adanya apa yang dinyatakan prof. semoga para pemimpin terutama kami di universitas samawa bisa berkaca dari pernyataan ini

  6. Budaya akademis harus tetap dikembangkan oleh tenaga Pendidik, khususnya dalam diskusi dalam upaya memotivasi berfikir kritis berbasis fakta bukan opini atau persepsi. karena budaya akademis akan menciptakan kreativitas masyarakat demi membangun Bangsa. Benturannya adalah budaya bangsa yang tabu akan kekritisan karena budaya bangsa yang feodal dengan sejarah lamanya bangsa ini terjajah. terjajah tidak hanya oleh bangsa asing tetapi juga pemimpin yang otoriter berat menerima kritik dan saran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *