Manakah yang Lebih Dahulu, Pendidikan Berkarakter atau Karakter Berpendidikan?

teacher3Melihat perkembangan serta berjalannya proses belajar mengajar saat ini, terbersit sekelumit rasa bangga bahwa anak didik kita begitu maju dengan penguasaan teknologi yang semakin canggih. Namun, disamping kebanggaan itu, ada sebuah perasaan miris. Rasa ini timbul manakala melihat semakin banyak pelajar berperilaku “kurang baik”. Perilaku ini tumbuh seiiring menurunnya kesadaran sosial bermasyarakat yang bergeser menjadi perilaku yang semakin individual, dimana tak lagi sempat berpikir perihal lain selain yang berkaitan dengan kepentingannya sendiri. Selain itu masih ditambah pula dengan lunturnya kepekaan terhadap situasi dan berbalik pada pemikiran yang self-focus. Masih banyak lagi kenyataan-kenyataan yang kita lihat, baik di sekolah maupun dalam kehidupan nyata di masyarakat yang menunjukkan adanya pergeseran perilaku ini.

Jika kita menengok sebentar kemasa lalu, sering kita dengar istilah “anak sekolahan”. Seseorang berperilaku baik karena dia sekolah. Sekolah berhasil menjadi cerminan perilaku dan karakter. Marilah kita melihat situasi saat ini. Belum tentu anak sekolahan, berperilaku “sekolah”. Masih sering kita melihat berita tentang tawuran pelajar bahkan antar mahasiswa atau anak muda yang terlibat pencurian beserta perilaku-perilaku yang menyimpang lainnya. Lalu apakah ini gambaran ketidakberhasilan sistem pendidikan kita? Tentu tidak. Ini bukan cermin gagalnya program pendidikan di Indonesia.

Meski bukan cermin retak kegagalan, hal ini membuat kita kembali bertanya, adakah yang salah terhadap metode pendidikan saat ini? Bukankah metode yang berjalan telah dirancang oleh mereka yang berkompeten dibidangnya?, bahkan tak kurang para ahli pendidikan “turun gunung” untuk memberikan sumbangsih dan kontribusi pemikirannya bagi kemajuan pendidikan di Indonesia.

Melihat judul diatas “Manakah yang Lebih Dahulu, Pendidikan Berkarakter atau Karakter yang Berpendidikan?”, agaknya membuat kita menjadi teringat sebuah pertanyaan guyonan yang sering kali terdengar, ”manakah yang lebih dulu, telur atau ayam?” Jawabannya akan terus tumpang tindih, tidak pasti dan memicu kontraversi.

Kita pahami bersama, metode pengembangan pendidikan yang ngetrend saat ini mengacu pada “Pendidikan Berkarakter”, sebuah istilah yang juga telah ditetapkan sebagai salah satu bentuk pendidikan pada kurikulum 2013. Berbasiskan hal tersebut, maka seluk beluk metode, bahan ajar berikut pengajarannya juga menyesuaikan dengan grand tema dimaksud. Sebenarnya metode ini bukan sebuah hal baru. Metode pendidikan semacam ini telah banyak diajarkan oleh pendahulu-pendahulu bangsa kita dan terhitung cukup berhasil waktu itu. Mengapa? Alasannya cukup jelas, karena mereka adalah orang-orang yang memiliki karakter kuat dalam mendidik. Hal ini berbeda dengan masa sekarang. Pendidikan berkarakter saat ini cenderung terjebak hanya pada jargon-jargonnya belaka. Para pendidik menjadi terperangkap pada hal-hal yang cenderung lebih materialis, seperti metode, buku ajar atau program-program yang rumit. Padahal jika berbicara karakter, tentu lebih mengarah pada proses bagaimana caranya “menjadi contoh”, bukan hanya “memberi contoh”. Dengan adanya contoh-contoh nyata yang baik pada perilaku, tentunya akan tercengkeram kuat pula pada karakter anak didik. Syarat mutlak untuk melakukan metode ini dibutuhkan terlebih dahulu pendidik-pendidik yang berkarakter kuat dan positif, yang diharapkan bisa menular pada anak didik. Bukankah rumput yang ada disekitar pusat air akan selalu basah dan subur?.

Pada sisi yang lebih materialis, bisa kita asumsikan bahwa mendidik ibarat membangun sebuah gedung. Seberapa kuat dan baik kualitas gedung tersebut tergantung pada siapa yang membangun serta seberapa kokoh fondasi yang ada. Namun sayangnya pendidikan bukan hanya sisi materi saja. Terdapat sisi-sisi cultural yang harus hadir dalam dunia pendidikan. Budaya mencari ilmu, mendapatkan pendidikan serta mendidik seharusnya bukan hanya berlangsung di sekolah, namun juga di rumah, di jalan atau di tempat-tempat ibadah bahkan di pasar sekalipun. Pendidikan harus tetap berjalan. Dimanapun dan kapanpun.

Penulis teringat sebuah pesan salah satu pendiri bangsa ini, M Natsir. Pada sebuah buku beliau menulis, “jangan membangun sambil merobohkan”. Jika kita renungkan, seperti itulah saat ini seharusnya membangun metode pendidikan kita. Adapun untuk perihal pengistilahan, tentunya sah saja memakai istilah “Pendidikan Berkarakter” atau apapun itu, dengan catatan, selama sel-sel yang berpengaruh pada pembentukan “karakter terdidik” bisa berjalan seiring dengan “karakter pendidikan”, agar usaha membangun karakter tidak menjadi sia-sia.

“Karakter pendidikan” dalam arti luas bukan hanya faktor para pendidik tetapi juga upaya pengubahan kondisi sosial kemasyarakatan dan lingkungan sekitar menjadi “berkarakter baik”. Bagaimana mungkin mengajarkan berbicara kejujuran, jika setiap hari anak-anak didik kita melihat realita bahwa korupsi di mana-mana. Bagaimana mungkin kita mengajarkan ketulusan, jika mereka melihat politik kepentingan telah menjadi sajian setiap hari. Lebih jauh lagi, bagaimana mungkin kita mengajarkan “sepi ing pamrih”, jika mereka melihat banyak tokoh-tokoh mengumbar jasa untuk puja-puji. Padahal inti dari pendidikan berkarakter ada dalam perilaku-perilaku mulia ini. Akhirnya, di sekolah hal tersebut hanya jadi cerita, bak dongeng di siang hari. Selebihnya mereka melihat realita-realita di “jalanan”. Program “Pendidikan Berkarakter” yang tadinya telah dirancang sebaik mungkin hanya akan jadi bendera usang kesepian.

Karakter-karakter culas, hedonis, munafik serta mementingkan diri sendiri yang tergambar pada sinetron-sinetron, berita-berita serta realita dalam kehidupan lebih bisa bertahan lama dalam memori anak-anak didik dan ini lebih sulit untuk mengontrolnya. Ironis memang, hanya kata itu yang bisa terucap. Belum lagi ditambah kala keikhlasan sudah jauh, saat kejujuran jadi hal yang aneh dan ketika rasa peduli pada sesama telah langka, maka proses “Pendidikan Berkarakter” menjadi semakin sulit sekali untuk dilakukan, meski tentunya bukan hal yang tidak mungkin untuk digapai. Penulis sepakat bahwa program “Pendidikan Berkarakter” adalah memang sebuah proses yang panjang dan berkelanjutan.

Pemerintah sendiri tampaknya telah menyadari hal tersebut. Upaya ini sebenarnya sudah tercermin dalam Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada masa-masa pemerintahan terdahulu. Penulis sepakat sesungguhnya pendidikan dan kebudayaan memang seharusnya ada pada satu lembaga, karena yang namanya pendidikan dan budaya adalah satu konsep yang tak bisa dipisahkan. Jangan sampai karena terlalu fokus pada metode pendidikan lalu menganggap ringan pada pengaruh budaya yang jelas akan merangsek dalam proses serta output dari pendidikan. Inilah mengapa penulis beranggapan untuk mendirikan “pendidikan berkarakter”, haruslah dilakukan oleh mereka yang memiliki “karakter berpendidikan”, sebagai hasil dari budaya baik dan terdidik, yang nantinya akan menghasilkan metode “pendidikan yang berkarakter”, lalu membuat anak didik kita memiliki “karakter berpendidikan”. Tentu ini sebuah proses sirkulasi tanpa ujung.

Sekali lagi, kontrol pada pelaksanaan upaya ini haruslah dilakukan secermat mungkin. Lembaga yang berkompeten terhadap hal yang berkaitan harusnya tidak berjalan sendiri-sendiri termasuk melibatkan segenap kementerian yang ada, misalnya melibatkan kementerian yang bertanggung jawab pada masalah informasi dan komunikasi di Indonesia, lembaga-lembaga penyiaran, media-media serta semua pihak-pihak yang terkait harus berjalan seiring. Semua langkah ini bertujuan untuk membangun sebuah generasi yang berkarakter positif. Kapan lagi kita akan memulainya, jika tidak sekarang, yah sekarang. Atau kita hanya akan melihat anak-anak dari generasi selanjutnya semakin rapuh, pupus lalu digilas oleh persaingan di masa depan. Generasi yang berkarakter lemah tentunya akan tergilas oleh generasi bangsa lain yang memiliki karakter kuat, pada era persaingan seperti saat ini. Munculkan kebanggaan bahwa Indonesia adalah negeri yang memiliki budaya kuat yang akan melahirkan anak-anak negeri berkarakter positif, kreatif, cerdas serta berakhlak. Semoga dengan memunculkan kepercayaan ini Indonesia akan lebih berperan besar di zaman globalisasi saat ini.

Salwa

Salwa

Salwa adalah alumni Flinders University, Adelaide – Australia, menempuh pendidikan Master of Arts in TESOL. Sebelumnya, beliau menempuh pendidikan sarjana pada IKIP Malang (Universitas Negeri Malang) jurusan pendidikan bahasa Inggris angkatan 1994. Saat ini, Salwa bekerja sebagai dosen tetap, mengajar pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Kanjuruhan Malang (UNIKAMA).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *