Konflik Sosial dan Pentingnya Pendidikan Karakter

Kondisi Konflik Sosial

konflik sosial dan pentingnya pendidikan karakterAda suatu fenomena yang berkait dengan kualitas kependudukan yaitu konflik sosial. Belakangan ini konflik sosial dengan kekerasan atau bentrokan dirasakan semakin meningkat. Bisa berupa konflik horizontal dan juga vertikal. Tidak saja terjadi di daerah perkotaan hingga di kota-kota kecil namun juga di daerah perdesaan. Malahan ada yang terjadi di beberapa kampus. Mulai dari persoalan sepele masalah anak-anak muda hingga persoalan yang lebih kompleks seperti eksekusi lahan pertanian dan pertambangan. Kekerasan dilakukan secara kolektif dan bisa juga diawali oleh individu. Setiap konflik yang direfleksikan dengan kekerasan pasti akan mencederai kedua pihak yang terlibat. Bentuk cederanya tidak melulu dalam hal fisik namun juga nonfisik seperti psikologis dan dimensi struktural berupa tatanan nilai, sistem, aturan dan tradisi yang ada di masyarakat.

Kekerasan psikologis dilakukan pada mental/jiwa seseorang atau kelompok oleh mereka yang bersebrangan. Akibatnya adalah kapabilitas normal kejiwaan yang dianiaya menjadi terganggu. Misalnya menurunnya pengetahuan,motivasi dan keberanian berbicara menurun. Hal demikian sebagai akibat adanya tekanan-tekanan sosial bahkan politik dan militer berupa tekanan, ancaman, dan bahkan indoktrinasi suatu sistem.

Bentuk kekerasan lainnya adalah dalam dimensi struktural. Kekerasan seperti ini yang dilakukan secara individu atau kelompok dapat mengganggu sistem, hukum,ekonomi, sosial budaya masyarakat setempat. Akibatnya terjadi ketimpangan pemilikan, penguasaan dan pengelolaan sumberdaya setempat. Seperti dalam hal sumberdaya pertanian, ketrampilan, pendapatan, teknologi, dan pendidikan. Intinya dapat menimbulkan trauma psikologis sosial. Kekerasan ini tidak mudah untuk dikenali.

Beberapa contoh konflik sosial dalam bentuk kekerasan dapat diungkapkan lebih jelas lagi. Misalnya penanganan korupsi yang dilakukan kalangan elit partai dinilai sangat lambat dan tebang pilih. Hal demikian mengundang ketidakpuasan dan kecaman keras dari berbagai kalangan. Mereka merasa dirugikan dan dikhianati kepercayaannya.

Contoh lain adalah protes masyarakat Indonesia terhadap rencana rejim SBY untuk menaikan harga BBM bersubsidi. Begitupula dengan aksi-aksi buruh dalam rangka peringatan hari buruh internasional ( May Day). Sementara itu muncul berbagai konflik sosial di berbagai daerah baik antara aparat keamanan dengan warga masyarakat maupun sesama warga masyarat. Misalnya terjadi bentrokan antara beberapa personil Konstrad dan Brimob di Gorontalo. Masalah Mesuji sebelumnya sudah diselesaikan dengan pembentukan TPF yang belum diketahui hasilnya,namun muncul lagi dengan pembakar kantor bupati Mesuji.

Mengapa terjadi konflik sosial berupa kekerasan? Ada beberapa faktor yang dapat memicu terjadinya konflik sosial baik yang terkait faktor-faktor intrinsik maupun ekstrinsik masyarakat. Secara intrinsik, konflik sosial dalam bentuk kekerasan karena adanya dorongan individu yang kemudian berkembang menjadi dorongan kelompok. Bentuk dorongan bisa berupa pikiran dan tindakan yang tidak rasional, saling dendam, kebencian, dan keegoan kepentingan sempit. Kalau sudah demikian maka mereka bertingkah laku dengan pikiran pendek seperti kasar, jahat dan bengis.

Sementara itu faktor ekstrinsik yang berpengaruh atau mendorong terjadinya konflik sosial adalah ketimpangan sosial, kepemimpinan nasional/daerah yang otoriter, kepemimpinan yang tidak memihak rakyat kecil, manipulasi asset negara dan daerah, dan lemahnya penegakkan hukum terhadap setiap penyimpangan. Di sisi lain pada dasarnya manusia itu bersifat fitrah atau bersih polos, mencintai lingkungan dan tidak egois. Namun kalau lingkungan seperti peradaban kebudayaan semakin tidak nyaman maka lambat laun membentuk manusia kehilangan jati dirinya yang asli. Kemudian manusia mudah menjadi emosi, mudah marah, protes terhadap lingkungan.

Dilihat dari faktor intrinsik individu dan kelompok maka unsur penting yang berkaitan dengan konflik sosial adalah tingkat iman, pendidikan, sikap, dan toleransi yang rendah dari sebagian masyarakat. Tentunya juga terjadi pada individu para pejabat pemerintah pusat/daerah, tokoh-tokoh elit politik, organisasi massa, dan kalangan intelektual. Karena itu beberapa pendektan yang bisa dilakukan untuk mencegah dan mengatasi konflik sosial adalah sosialisasi dan internalisasi sifat-sifat damai di kalangan masyarakat, pendidikan atau sosialisasi keluarga, gerakan anti kekerasan, kebijakan pemerataan pendapatan dan lapangan kerja atau menurunkan kondisi ketimpangan sosial, membangun pemerintahan yang baik dan bersih, dan penegakkan hukum dengan tegas.

Pendidikan Karakter

Kondisi kualitas kependudukan sudah digambarkan di atas. Intinya adalah bahwa selain indikasi IPM yang rendah dan khususnya daya saing SDM yang juga rendah maka perlu dijelaskan apa hubungannya dengan politik pendidikan (kebijakan pendidikan nasional). Khusus dalam uraian ini lebih ditekankan pada pendidikan karakter. Mengapa? karena karakter bangsa sangat menentukan maju dan sejahtera tidaknya suatu bangsa. Fakta berikut ini mendorong lebih jauh betapa pentingnya pendidikan karakter suatu bangsa.

Data dari BPS (2010) memerlihatkan jumlah tindak pidana di Indonesia pada tahun mencapai 344.942 kali. Sementara jumlah resiko penduduk yang terkena tindak pidana per 100 ribu penduduk mencapai 148 orang. Dengan demikian rasa aman masyarakat yang terganggu oleh adanya tindakan pidana relatif cukup besar. Di sisi lain berikut ini ditampilkan data tentang perilaku menyimpang berupa korupsi. Sumber Libang Kompas menginformasikan terdapat 158 kepala daerah tersangkut korupsi sepanjang 2004-2011; 42 anggota DPR melakukan korupsi selama kurun waktu 2008-2011; 30 anggota DPR periode 1999-2004 terlibat kasus suap pemilihan Deputi Gubernur Senior BI; dan Kasus korupsi juga terjadi diberbagai lembaga lain seperti Kementrian Agama, Ditjen Pajak, BI, dan Pemda. Belum lagi dengan maraknya konflik sosial dan tawuran di kalangan pelajar dan mahasiswa yang relatif kerap terjadi.

Fakta tersebut mencerminkan betapa rentannya kondisi karakter bangsa oleh tindakan-tindakan yang tidak bertanggung jawab dari sebagian masyarakat. Karena itu dibutuhkan pendidikan karakter. “To educate a person in mind and not in morals is to educate a menace to society” (Theodore Roosevelt). Artinya mendidik seseorang dalam aspek kecerdasan otak dan bukan aspek moral adalah ancaman mara-bahaya kepada masyarakat.

Pengertian karakter menurut Pusat Bahasa Depdiknas adalah “bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, watak”. Adapun berkarakter adalah berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat, dan berwatak”. Karakter adalah kunci keberhasilan individu. Beberapa penelitian kebanyakan kasus pemecatan disebabkan oleh perilaku buruk seperti tidak bertanggung jawab, tidak jujur, dan hubungan interpersonal yang buruk. Selain itu, keberhasilan seseorang di masyarakat ditentukan teernyata tidak ditentukan kecerdasan intelektual namun dominan oleh kecerdasan emosional.

Tidak dapat dipungkiri bangsa Indonesia harus memersiapkan pendidikan karakter yang visioner, sistematik, sistemik dan bersinambung. Hal ini penting mengingat bangsa Indonesia harus mampu membangun bangsa yang berkarakter. Jauh dari konflik-konflik sosial. Sementara pada konteks persaingan global maka pendidikan karakter juga bakal memegang peranan penting. Bagaimana dengan pendidikan karakter mampu membangun individu yang berkarakter baik atau unggul. Yakni seseorang yang berusaha melakukan hal-hal yang terbaik terhadap Tuhan YME, dirinya, sesama, lingkungan, bangsa dan negara serta dunia internasional pada umumnya dengan mengoptimalkan potensi (pengetahuan) dirinya dan disertai dengan kesadaran, emosi dan motivasinya (perasaannya).

Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen (pemangku pendidikan) harus dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan ethos kerja seluruh warga sekolah/lingkungan. Begitu pula, pendidikan karakter harus mencerminkan suatu perilaku warga sekolah harus berkarakter. Selain di sekolah maka pendidikan karakter di dalam keluarga memegang peranan pokok bagi semua anggota keluarga. Disini peran keteladan dari orang tua sangat strategis.

Kemendiknas (2010) telah menyusun grand design. Secara psikologis dan sosial kultural pembentukan karakter dalam diri individu merupakan fungsi dari seluruh potensi individu manusia (kognitif, afektif, konatif, dan psikomotorik) dalam konteks interaksi sosial kultural (dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat) dan berlangsung sepanjang hayat. Konfigurasi karakter dalam konteks totalitas proses psikologis dan sosial-kultural tersebut dapat dikelompokkan dalam: Olah Hati (Spiritual and emotional development) , Olah Pikir (intellectual development), Olah Raga dan Kinestetik (Physical and kinestetic development), dan Olah Rasa dan Karsa.

dimensi pendidikan karakter

Gambar: Dimensi pendidikan karakter

Proses pendidikan karakter mulai dari tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi seharusnya merupakan proses yang sistemik, sistimatik dan bersinambung. Mulai dari metode pembelajaran yang berkonsentrasi pada pembinaan ahlak-moral dan peningkatan pengetahuan dan ketrampilan dengan pendekatan model pembelajaran terpusat pada khalayak belajar seharusnya merupakan mata rantai yang tidak terputus.

Untuk itu kebersinambungan penyediaan pengajar yang bermutu, fasilitas pembelajaran yang cukup, dan kesejahteraan guru dan dosen yang memadai menjadi hal sangat strategis. Karena itulah amanat undang-undang tentang dana pendidikan sebesar 20% dari APBN secara bertahap seharusnya mulai ditingkatkan. Sementara itu kesempatan dan pembinaan pada lembaga pendidikan swasta untuk meningkatkan mutu pembelajaran perlu terus diintensifkan.

Perilaku dalam bekerja keras dan cerdas serta berbudi pekerti, memimpin bangsa atau masyarakat dengan persuasif, dan membangun hubungan vertikal dan horizontal yang harmonis merupakan contoh-contoh perilaku sifat terpuji dari seseorang. Karena berperilaku menakjubkan dari karyawan dan pimpinannya maka kinerja bangsa secara bertahap akan meningkat. Dari mana referensi keteladanan itu bisa dipelajari dan ditiru? Biasanya keteladanan itu datangnya dari seorang pemimpin. Seorang pemimpin yang baik dalam berbagai segi maka masyarakat luas cenderung akan menirunya. Bahkan tanpa diperintah sekalipun.

Sjafri Mangkuprawira

Sjafri MangkuprawiraGuru Besar di Institut Pertanian Bogor dan Sekolah Tinggi Manajemen PPM Jakarta yang mengasuh berbagai mata kuliah di tingkat S1 sampai S3 untuk mata kuliah, di antaranya: MSDM Strategik, Ekonomi Sumberdaya Manusia, Teori Organisasi Lanjutan, Perencanaan SDM, Manajemen Kinerja, Manajemen Pelatihan dan Manajemen Program Komunikasi.

One Response to Konflik Sosial dan Pentingnya Pendidikan Karakter

  1. Well, I have a quote about this topic. Here it is : “When wealth is lost, nothing is lost. When health is lost, something is lost. When character is lost, everything is lost. Do you know what it mean? It means that if our wealth is lost, actually there’s nothing lost because we find money by working hard as long as we are willing to work. If our health is lost, we cannot do anything because of health, we can do everything we want. Allah has given us a great gift of health. But when the character is lost, we will lose everything. I am as student, I want to let you know that character is very important. If it’s lost, we cannot control ourselves. Thus, we can do negative actions that prohibited by Allah. So, we should keep the character as well as possible. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *