Indonesia Milik Indonesia

Indonesia milik IndonesiaMembaca laporan McKinsey tentang Indonesia 2030 sebenarnya memberikan rasa optimisme yang kuat untuk kita saat ini melihat potensi ekonomi Indonesia yang diproyeksikan dalam 18 tahun mendatang mampu melewati kemampuan ekonomi Jerman dan Inggris Raya. Laporan McKinsey tentu tidak main-main, karena kredibilitas dari sebuah lembaga manajemen dan konsultasi bertaraf internasional sedang dipertaruhkan. Ini berarti apa? Artinya kita perlu mempertimbangkan secara serius proyeksi ekonomi yang diprediksikan tersebut.

Coba kita lihat lebih dalam proyeksi ekonomi yang dibuat oleh McKinsey tersebut. Indonesia memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi yang stabil dalam 10 tahun terakhir, yakni 4 – 6 persen. Inflasi yang mencapai 20 persen pada 10 tahun yang lalu, sekarang stabil di angka 8 persen. World Economic Forum menempatkan Indonesia pada peringkat 25 pada tahun 2012. Brasil menempati peringkat 62 dan India menempati peringkat 99.

Indonesia memang memiliki sumber daya alam yang besar, kita adalah penghasil dan pengekspor minyak sawit terbesar di dunia, pengekspor terbesar kedua di dunia untuk batubara, memiliki sumber daya bauksit dan nikel terbesar ke empat dan ketujuh di dunia. Potensi sumber daya laut kita yang belum tergali secara maksimal membuat Indonesia dapat menjadi salah satu stakeholder penting dalam proyeksi “blue economy” di masa depan.

Posisi demografi Indonesia yang diproyeksikan akan mencapai angka 280 Juta jiwa pada tahun 2030, tidak hanya memberikan kita bonus konsumen dan pasar yang sangat besar tapi juga potensi tenaga kerja yang dapat mengakselerasi produktivitas pasar yang sangat penting dalam meningkatkan tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Dari beberapa fakta yang ada tentang Indonesia dalam 10 tahun terakhir, menunjukkan bahwa secara perlahan namun pasti, Indonesia mulai bergerak meninggalkan krisis ekonomi yang pernah membelit kita secara parah pada tahun 1997-1998. Kita punya segala modal dasar yang dapat meroketkan tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Lalu dimana tantangannya?

Tantangan terbesar kita adalah pada peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia saat ini. Bisa dibayangkan kalau kita memiliki kemampuan mengelola sumber daya alam kita sendiri. Ini berarti kita mampu mengurangi ongkos produksi. Kita juga tidak perlu membayar tenaga asing untuk mengelola sumber daya alam milik kita. Dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusia kita sendiri artinya kita akan mampu membangun perekonomian Indonesia secara lebih mandiri tanpa terkait klausul-klausul yang diberikan oleh negara lain.

Pengelolaan sumber daya alam kita sendiri berarti pula membuka peluang kerja lebih besar untuk warga negara Indonesia. Hal ini akan mengurangi secara bertahap pengiriman tenaga kerja Indonesia ke luar negeri karena mereka memiliki pekerjaan dengan gaji yang layak di negaranya sendiri. Dan yang paling penting adalah pengelolaan sumber daya alam oleh bangsa kita sendiri dapat meningkatkan rasa percaya diri kita sebagai sebuah bangsa. Kepercayaan diri ini akan tumbuh karena kita memiliki kemampuan yang sejajar dan tak kalah dengan bangsa manapun dalam penguasaan ilmu dan teknologi.

Jadi pengelolaan sumber daya alam Indonesia oleh bangsa Indonesia sendiri bukan sekedar permasalahan pembangunan ekonomi Indonesia tapi masalah prinsip kebangsaan yang penting dan mendasar yakni kemandirian bangsa.

Benar bahwa dalam era globalisasi saat ini, tak ada negara yang dapat berdiri sendiri tanpa memiliki keterkaitan dan kerja sama dengan negara lain. Benar bahwa dalam era globalisasi saat ini bahwa perkembangan suatu negara bisa menaikturunkan nilai ekspor dan impor ke negara lain. Sebagai sebuah bangsa, Indonesia pun tidak bisa lepas dari hukum globalisasi ini.

Dalam konteks ini tentu tidak masalah, yang saya maksudkan adalah bagaimana Indonesia harus mampu memiliki kemampuannya sendiri dalam pengelolaan sumber daya alamnya sendiri dan secara bertahap mengurangi ketergantungan kita kepada pihak asing dalam mengelola sumber daya alam kita sendiri.

Lalu sumber daya manusia yang bagaimana yang perlu kita siapkan?

Sumber daya manusia yang perlu kita bangun tidak boleh diukur hanya dari berapa banyak sarjana yang kita hasilkan atau berapa banyak jumlah master atau doktor yang lulus dari luar negeri. Sumber daya manusia yang kita perlukan adalah sumber daya manusia yang inovatif dan memiliki jiwa entrepreneur. Dengan inovasi maka kita bisa terus meningkatkan daya saing produk bangsa kita dalam kompetisi global. Dengan inovasi maka kita dituntut untuk dapat menguasai teknologi lanjut (advance technology) karena penguasaan teknologi yang lemah dapat menyulitkan kita dalam mengembangkan inovasi.

Tapi inovasi saja tidak cukup, karena sekarang produk hasil inovasi memerlukan kemampuan pemasaran dan manajemen ekonomi yang baik, memerlukan kemampuan entrepreneurship sumber daya manusia yang baik. Dua hal ini dapat menumbuhkan ratusan, ribuan bahkan puluhan ribu industri kreatif di Indonesia. Tidak hanya itu industri kreatif ini berarti lapangan kerja baru dan yang paling penting adalah industri kreatif ini mampu membuat bangsa kita merebut pangsa pasar dalam negeri, memberikan nilai tambah pada produk dan membuat Indonesia untuk Indonesia.

Referensi
http://www.mckinsey.com/insights/mgi/research/asia/the_archipelago_economy

Achmad Adhitya

Achmad Adhitya adalah kandidat doktor bidang kelautan di Universitas Leiden di Belanda dengan beasiswa Royal Academy of Science (KNAW) dari Kerajaan Belanda. Sebelumnya Adhit menyelesaikan studi masternya di Universitas Christian Albrecht zu Kiel di Jerman untuk bidang Geologi Laut. Adhit juga memiliki pengalaman bekerja di Institute for World Economics (IFW) di Kiel Jerman dan mendesain institusi ekonomi untuk daerah rawan becana. Pada tanggal 4 April 2012, Achmad Adhitya berkesempatan memberikan presentasi didepan putra mahkota Kerajaan Belanda, Pangeran Willem – Alexander di Royal Netherlands Institute of Sea Research (NIOZ). Selain aktivitas akademik dan kerjanya, Adhit juga menjadi Co Founder dari Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4). Saat ini Adhit menjadi direktur eksekutif dari I-4. Pada Juli 2012, Adhit memperoleh Indonesian Diaspora Awards untuk bidang Youth Activism.

One Response to Indonesia Milik Indonesia

  1. parada hutauruk

    Terus terang saya secara pribadi tidak percaya dengan laporan Mckinsey tersebut…saya malah ingin sekali melihat para ekonom Indonesia memberikan uraian mengenai keadaan ekonomi Indonesia. Jadi tidak selalu percaya dengan apa yang ditulis oleh institusi luar negeri manapun. Kemandirian dan kekritisan peneliti Indonesia juga harus digunakan dalam hal ini.

    Saya pernah menulis ulasan singkat dikompansiana mengenai bagaimana seharusnya agar peneliti, konsumen, industri dan universitas bekerjasama untuk menghasilkan inovasi. Silahkan disimak link dibawah ini :

    http://teknologi.kompasiana.com/internet/2010/03/17/transfer-pengetahuan-yang-melibatkan-universitas-industri-konsumen-masyarakat-95942.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *