Eksistensi Duta Wisata

Eksistensi Duta WisataWonderful Indonesia. Begitulah tagline pariwisata Indonesia yang resmi dikeluarkan oleh Kementerian Pariwisata dan Industri Kreatif. Tagline singkat tersebut dibuat dengan harapan untuk menarik kunjungan wisatawan mancanegara ke tanah air sebanyak mungkin. Terlepas dari angka kunjungan turis yang masih sangat kecil dibandingkan pencapaian negeri jiran, upaya tersebut selayaknya didukung oleh semua kalangan karena industri pariwisata bersifat multiplier effects.

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, sudah tidak diragukan lagi potensi pariwisata di Indonesia. Negeri ini memiliki keindahan alam dan budaya yang tiada tara di kancah dunia. Mulai dari Puncak Jaya nan bersalju di Papua sampai danau tiga warna Kelimutu di Ende, dari candi Budha terbesar di dunia Borobudur sampai keajaiban Musamus di Merauke, dari surga bawah laut Rajaampat sampai surga selancar di Nias. Karena berbagai faktor penghambat, baru Bali yang mendunia. Bahkan, nama Indonesia sebagai negara terbesar di Asia Tenggara ini pun masih kalah pamornya dengan Pulau Dewata tersebut, ironis!

Salah satu aset yang terabaikan dalam program pengembangan pariwisata Indonesia adalah duta wisata. Hal ini tidaklah berlebihan karena selama ini stigma negatif masih melekat kuat di mata masyarakat luas maupun pemerintah daerah terhadap eksistensi mereka. Diantara stigma negatif tersebut antara lain:

Pertama, duta wisata adalah pajangan. Ini pandangan yang menyesatkan. Duta wisata dipilih oleh Dinas Pariwisata masing-masing kabupaten/kota maupun provinsi untuk menjadi ujung tombak dalam mempromosikan potensi wisata baik secara lokal, nasional maupun internasional. Pandangan ini boleh jadi muncul karena salah satu tugas pokok dan fungsi mereka adalah mendampingi acara-acara seremonial pemerintahan. Faktanya, banyak duta wisata di berbagai daerah yang sangat proaktif, “menjemput bola” dalam menyukseskan dan atau menyelenggarakan acara secara mandiri untuk kegiatan yang tidak hanya masuk dalam ranah pariwisata/budaya, akan tetapi sudah meluas ke ranah sosial, pendidikan, maupun lingkungan.

Kedua, duta wisata menghabiskan anggaran. Ini anggapan yang keliru. Banyak pemerintah kabupaten/kota maupun provinsi yang hanya sedikit memakai APBD karena dalam setiap kegiatan yang melibatkan atau berkaitan dengan duta wisata selalu menggandeng mitra, baik korporat maupun Ormas. Kerjasama multipihak ini justru harus terus didorong karena menumbuhkan transparansi, akuntabilitas dan partisipasi publik. Sudah saatnya pemerintah mengubah pola pikir untuk tidak hanya menyelenggarakan pemilihan duta wisata secara seremonial, akan tetapi harus mendayagunakan kreatifitas mereka. Sudah bukan saatnya bagi publik untuk mencibir dan menihilkan eksistensi mereka, namun bagaimana untuk turut andil mendukung program-program nyata mereka.

Belum banyak yang mengerti bahwa kriteria pemilihan duta wisata tidak hanya ditentukan oleh aspek keindahan ragawi (beauty), akan tetapi juga mempertimbangkan aspek kecerdasan intelektual (brain) dan kecerdasan emosional (behavior) secara proporsional. Ketiga aspek tersebutlah yang menjadi modal duta wisata untuk mendukung kemajuan pariwisata nasional berdasarkan prinsip Sapta Pesona. Prinsip tersebut merupakan suatu kondisi yang harus dicapai guna menggenjot kunjungan wisatawan, yaitu: aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah tamah dan kenangan.

Pelajaran dari Abang None Jakarta

Keberadaan duta wisata di tanah air tidak dapat dipisahkan dari sejarah Abang None DKI Jakarta. Sebagai barometer dan sekaligus jendela Indonesia, lahirnya Abang dan None DKI Jakarta tidak memakan waktu lama untuk diikuti oleh daearah-daerah lain yang sampai saat ini sudah merata di seluruh Indonesia. Pemilihan None Jakarta pertama kali dihelat bertepatan dengan HUT Kota Jakarta ke 331 pada 22 Juni 1968. Mempertimbangkan antusiasme publik dan peningkatan efektifitas program, pemilihan Abang-None Jakarta pertama kali diselenggarakan pada tahun 1971. Gubernur DKI Jakarta yang legendaries, Ali Sadikin percaya bahwa keberadaan duta wisata tersebut mampu mendongkrak popularitas seni budaya Betawi secara nasional dan internasional yang sejalan dengan program pembangunan pariwisata di tanah air.

Abang None Jakarta membuktikan bahwa mereka bukan sekedar pajangan. Tak sedikit mantan Abang None yang menjadi public figure dalam berbagai bidang. Dari dunia hiburan, Abang None telah melahirkan Irwan Rachman, Ratih Sanggarwati, Ivan Fadilla Soedjoko, Maudy Koesnaedi, Adrian Maulana, Ferdi Hasan, Alya Rohali, dan Tommy Tjokro. Di dunia pemerintahan, Abang None telah menelurkan Sylviana Murni yang pernah menjadi Walikota Jakarta Pusat. Kontribusi duta wisata daerah lain juga tidak kalah bergaung. Sederet nama telah menghiasai media nasional seperti anggota DPR RI Angelina Sondakh (Wulan Minahasa) dan presenter Indosiar Tina Talisa (Mojang Jawa Barat).

Sudah saatnya untuk mendukung eksistensi duta wisata. Pemerintah jangan hanya mengadakan pemilihan duta wisata kemudian mengabaikan mereka. Duta wisata harus dilihat sebagai aset sekaligus mitra yang seyogyanya diberdayakan. Kreatifitas dan ide-ide segarnya musti diberikan tempat untuk berkembang. Di sisi lain, publik jangan lagi menganggap mereka sebagai “anak bawang”. Dan jangan biarkan wonderful Indonesia terhenti pada slogan. Kenalilah negerimu, cintailah bangsamu, maju terus duta wisata Indonesia!

Agung Setiyo Wibowo

Agung Setiyo WibowoCo-founder Ikatan Duta Budaya dan Pariwisata Indonesia (IDBUDPARINDO) & Junior Communication Assistant-Partnership for Governance Reform in Indonesia (Kemitraan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *